Showing posts with label Gaza. Show all posts
Showing posts with label Gaza. Show all posts

Hijrahku Pada Allah

Assalamu'alaykum...

Well, kisah seorang mu'allaf memang selalu menarik untuk disimak. Mengharukan, penuh perjuangan dan insyaAllah bisa menjadi motivasi bagi kita untuk meningkatkan keimanan. Untuk lebih memperbaiki diri, khususnya. Karena kebanyakan mu'allaf adalah muslim yang lebih taat dibanding orang yang muslim sejak lahir karena keturunan.
Berikut adalah kisah masuk islamnya seseorang yang saya terjemahkan dari blog pribadinya.

Ayesha Lucarelli, seseorang yang saya kenal via twitter.
Dia adalah perempuan eropa asli pertama yang saya tahu muslim, seorang muslimah Italia (kebanyakan muslim di eropa adalah keturunan timur). Saya tak banyak berfikir untuk langsung bertanya, "are you really italian, muslimah and wear niqab?" 

Hijrahku pada Allah

Assalamu 'Alaykum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuhu,

"Jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. 
Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya." 
[QS. Al-Baqarah : 38-39]

Saya menerima email dan komentar-komentar termasuk beberapa pertanyaan tentang bagaimana saya masuk Islam (silakan baca post sebelumnya, klik di sini) bagaimana keluarga saya yang non-muslim menerima saya dan di atas segalanya saya meninggalkan Italia untuk tinggal di UK. Nanti lah saya coba untuk membalas email dan komentar. InsyaAllah.

Sekarang telah hampir 15 tahun saya meninggalkan Italia, waktu yang cukup lama! Jika kau bertanya apakah saya merindukannya, ya tentu saja. Saya merindukannya. Yang akan selalu jadi negara di mana saya dilahirkan, dimana keluarga saya tinggal dan di mana perjalanan saya dimulai bertahun-tahun lalu.

Pertama kali saya meninggalkan Italia, saat itu tahun 1998. Saya pergi karena saya harus mendapatkan pekerjaan dalam industri pariwisata dan Bahasa Inggris yang selalu dibutuhkan untuk pekerjaan semacam itu. Jadi saya meninggalkan kampung halaman untuk memulai perjalanan yang saya fikir, sebelum itu, hanya berlangsung beberapa bulan. Sedikit yang saya tahu saat itu, bahwa ternyata perjalanan akan berlangsung lebih dari 14 tahun...

jadi saya mendarat di London, UK, meninggalkan semua orang yang saya cintai, barang-barang saya, hidup saya, dan yang saya tahu sampai setelahnya... hanyalah sedikit uang di dompet dan satu koper dengan beberapa pakaian. Malam pertama saya tidur di atas lantai youth hostel, tidak selayaknya, saya tahu tapi saya tak tahu lagi ke mana harus pergi.

Saat itu saya bukanlah seorang muslim walaupun saya tetap percaya pada satu Tuhan, Pencipta surga dan bumi. Saya berdo'a pada-Nya sebelum tidur dan  hari-hari saya duduk di gereja atau kapel, berlutut, meminta-Nya untuk membimbing saya dan menjaga saya.

Itulah hari-hari gelap. Saya sering mempertanyakan keputusan saya meninggalkan rumah tapi saya tak punya pilihan. Saya harus belajar dan bekerja untuk meraih tujuan saya: menemukan pekerjaan dalam industri pariwisata.

Hari, minggu dan bulan telah berlalu. Selama masa itu saya sering menangis dan berdo'a pada Tuhan. Saya sering mengingatkan diri saya bahwa kesulitan yang saya alami akan berakhir suatu hari nanti. Tak ada yang abadi.

Setelah 7 bulan lamanya jauh dari keluarga, saya akhirnya siap untuk kembali ke rumah tapi apakah saya siap untuk kembali ke kehidupan saya semula?

Kembali ke Italia dan saya merasa terjebak seperti seorang tahanan. Saya merasa tidak nyaman dan sesuatu di dalam diri saya mengatakan untuk pergi lagi. Selama bulan-bulan itu saya berubah, sesuatu dalam diri saya berubah. Saya menyadari kemudian bahwa menjauh dari keluarga, tergantung hanya pada Tuhan memiliki dampak yang sangat mendalam pada jiwa saya.
Hari-hari gelap itu mengajarkan saya untuk memanggil Tuhan, untuk meminta pertolongan-Nya, untuk bergantung hanya pada-Nya dan mengerti bahwa Dia lah Maha Pemberi, bukan yang lain.

Jadi di sana saya kembali ke kampung halaman, merasa tidak senang, harus melarikan diri. Saya sedang memulai perjalanan baru tapi kali ini akan menjadi perjalanan hidup terbesar. Perjalanan spiritual yang mengubah hidup saya selamanya.

Untuk kedua kalinya, ketika meninggalkan Italia demi London, ibu saya lebih sedih, dia menangis lebih banyak di bandara ketika mengatakan selamat tinggal. Ini berbeda. Dia pasti memiliki "insting keibuan", dia pasti tahu bahwa saya pergi untuk waktu yang lebih lama, saya tidak kembali...

Kedua kalinya, saya meninggalkan lagi semua orang yang saya cintai, barang-barang saya, hidup saya dan yang lainnya. Tapi Saat ini hati saya terisi dan dalam kedamaian.

Selama perjalanan kedua, saya tidak hanya meninggalkan satu negara untuk negara lainnya, tapi hati saya akan bermigrasi juga, berimigrasi pada Tuhan!

Semuanya terjadi selama setahun di London. Ketika bekerja, belajar dan bertemu teman-teman. Inilah perubahan yang berangsur-angsur dalam diri saya.
Saya meninggalkan semua materi dunia yang menjebak saya dan menemukan jalan untuk kehidupan yang lebih spiritual.

Hari ketika saya mengucapkan syahadat, (deklarasi keyakinan untuk menjadi seorang muslim), dengan masing-masing kata saya rasakan sangat berat di dada, bahkan terasa lebih nyeri. Saya merasa bebas. Hati saya merasa suci dan akhirnya saya kembali pada Sang Pencipta.

Pada hari itu, ketika saya menolehkan wajah ke para jemaah yang menunggu di belakang saya ketika saya di depan imam mengulangi kata-kata syahadat, saya telah menyadari kenapa saya mengalami perjalanan pertama. Allah ingin menyiapkan saya. Dia menyiapkan jiwa dan hati saya untuk melepaskan kehidupan lama saya, teman-teman lama, barang-barang, bahkan keluarga saya.
Dan ketika Allah mengosongkan tangan kita, bukan berarti untuk mengambil tetapi untuk mengisinya dengan hadiah yang lebih besar. Yang saya dapatkan jauh lebih besar daripada keluarga, jauh lebih besar daripada hadiah dan lebih daripada barang-barang atau materi kekayaan yang tak pernah saya bayangkan; hati saya akan melalui perjalanan yang paling besar yang pernah ada: Hijrah pada Allah.

Sekarang saya tahu mengapa saya mengalami hari-hari gelap itu selama perjalanan pertama saya. Kenapa saya harus memberikan semua yang saya miliki, termasuk keluarga saya. Allah ingin menunjukkan pada saya bahwa ada yang jauh lebih hebat dan kehidupan lebih terhormat setelah perjalanan sementara di bumi ini. Saya bisa melihatnya dengan sangat jelas dan ini luar biasa!

Segalanya memiliki makna yang baru sejak hari di mana saya mendeklarasikan syahadat. Saya mengubah jalan saya, hidup saya dan memulai sekali lagi.

Saya merindukan keluarga saya, teman-teman saya, kota saya, pekerjaan saya, bahkan sepasang celana jeans tua saya yang saya tinggalkan di laci terakhir kamar tidur saya (duh!).
Tapi sejak menerima Islam 14 tahun lalu, saya menjadi sadar pada tujuan hidup. Sekarang saya melihat segala sesuatunya di sekitar saya dengan mata yang berbeda, saya menghargai hal kecil yang saya miliki dan menemukan kebahagiaan pada hal-hal kecil. Saya mengerti Allah memiliki rencana untuk kita semua dan semuanya terjadi untuk sebuah alasan.

Saya merasa diridhai dan dalam kedamaian.

Wa 'alaykum assalam wa Rahmatullahi Wa Barakatuhu,

Ayesha

===

artikel aslinya ada pada : My Hijra To Allah (klik!)
dan jika Anda memiliki akun twitter, sila follow @AyeshaLucarelli 
kalau mau follow @retnodn juga disilakan :) 
Hhehe...

Terbunuh 1.000, Lahir 3.000

Hilang seribu, tumbuh tiga ribu. Sepertinya, ungkapan ini cocok disematkan kepada penduduk Gaza. Kesedihan rakyat Gaza atas hilangnya nyawa 1.412 putra putrinya, terobati dengan lahirnya 3.700 bayi selama 22 hari gempuran Israel terhadap kota kecil ini.

Hamam Nisman, Direktur Dinas Hubungan Sosial dalam Kementerian Kesehatan pemerintahan Gaza menyatakan bahwa dalam 22 hari 3.700 bayi lahir di Gaza. “Mereka lahir antara tanggal 27 Desember 2008 hingga 17 Januari 2009, ketika Is*rael melakukan serangan yang menyebabkan meninggalnya 1.412 rakyat Gaza, yang mayoritas wanita dan anak-anak,” katanya.

Bulan Januari tercatat sebagai angka kelahiran tertinggi dibanding bulan-bulan sebelumnya. “Setiap tahun 50 ribu kasus kelahiran tercatat di Gaza. Dan, dalam satu bulan tercatat 3.000 hingga 4.000 kelahiran. Akan tetapi di masa serangan Israel 22 hari, kami mencatat 3.700 kelahiran dan pada sisa bulan Januari tercatat 1.300 kelahiran. Berarti dalam bulan Januari terjadi peningkatan kelahiran hingga 1.000 kasus.

Rasio antara kematian dan kelahiran di Gaza memang tidak sama. Angka kelahiran, jelasnya lagi, mencapai 50 ribu tiap tahun, sedang kematian mencapai 5 ribu.

“Israel sengaja membunuh para wanita dan anak-anak untuk menghapus masa depan Gaza. Sebanyak 440 anak-anak dan 110 wanita telah dibunuh dan 2.000 anak serta 1.000 wanita mengalami luka-luka.

Dua Pekan Wafat, Darah Tetap Mengalir

Yasir Ali Ukasyah sengaja pergi ke Gaza dalam rangka bergabung dengan sayap milisi pejuang Hamas, Brigade Izzuddin al-Qassam. Ia meninggalkan Mesir setelah gerbang Rafah, yang menghubungkan Mesir-Gaza, terbuka beberapa bulan lalu.

Sebelumnya, pemuda yang gemar menghafal al-Qur’an ini sempat mengikuti wisuda huffadz (para penghafal) al-Qur’an di Gaza dan bergabung dengan para mujahidin untuk memperoleh pelatihan militer. Sebelum masuk Gaza, di pertemuan akhir dengan salah satu sahabatnya di Rafah, ia meminta didoakan agar memperoleh kesyahidan.

Untung tak dapat ditolak, malang tak dapat diraih, di bumi jihad Gaza, ia telah memperoleh apa yang ia cita-citakan. Yasir syahid dalam sebuah pertempuran dengan pasukan Israel di kamp pengungsian Jabaliya.

Karena kondisi medan, jasadnya baru bisa dievakuasi setelah dua pekan wafatnya di medan pertempuran tersebut.

Walau sudah dua pekan meninggal, para pejuang yang ikut serta melakukan evakuasi menyaksikan bahwa darah segar pemuda berumur 21 tahun itu masih mengalir dan fisiknya tidak rusak. Kondisinya mirip seperti orang yang sedang tertidur.

Sebelum syahid, para pejuang pernah menawarkan kepadanya untuk menikah dengan salah satu gadis Palestina, namun ia menolak. “Saya meninggalkan keluarga dan tanah air dikarenakan hal yang lebih besar dari itu,” jawabnya.

Kabar tentang kondisi jenazah pemuda yang memiliki kuniyah Abu Hamzah beredar di kalangan penduduk Gaza. Para khatib juga menjadikannya sebagai bahan khutbah Jumat mereka atas tanda-tanda keajaiban perang Gaza. Cerita ini juga dimuat oleh Arab Times (7/2/ 2009)

Harum Jasad Para Syuhada

Abdullah As Shani adalah anggota kesatuan sniper (penembak  jitu)  al-Qassam yang menjadi sasaran rudal pesawat F-16 Israel ketika sedang   berada di pos keamanan di Nashirat, Gaza. Jasad komandan lapangan  al-Qassam dan pengawal khusus para tokoh  Hamas ini “hilang” setelah terkena  rudal. 

Selama dua hari jasad  tersebut dicari, ternyata sudah hancur tak tersisa  kecuali serpihan  kepala dan dagunya. Serpihan-serpihan tubuh itu kemudian  dikumpulkan  dan dibawa pulang ke rumah oleh keluarganya untuk  dimakamkan. Sebelum dikebumikan, sebagaimana dirilis situs syiria-aleppo.com  (24/1/2009), serpihan jasad tersebut sempat disemayamkan di sebuah  ruangan  di rumah keluarganya.

Beberapa lama kemudian, mendadak muncul  bau harum misk  dari ruangan penyimpanan serpihan tubuh tadi. Keluarga Abdullah As Shani’  terkejut lalu memberitahukan kepada  orang-orang yang mengenal sang pejuang yang  memiliki kuniyah (julukan)  Abu Hamzah ini. Lalu, puluhan orang  ramai-ramai mendatangi rumah tersebut untuk  mencium bau harum yang berasal dari  serpihan-serpihan tubuh yang  diletakkan dalam sebuah kantong  plastik. 

Bahkan, menurut pihak keluarga, 20 hari setelah wafatnya pria  yang  tak suka menampakkan amalan-amalannya ini, bau harum itu kembali  semerbak  memenuhi rungan yang sama. Cerita yang sama terjadi juga pada jenazah  Musa Hasan Abu Nar,  mujahid Al Qassam yang juga syahid karena serangan udara  Israel di  Nashiriyah. 

Dr Abdurrahman Al Jamal, penulis yang bermukim di Gaza,   ikut mencium bau harum dari sepotong kain yang terkena darah Musa Hasan  Abu Nar.  Walau kain itu telah dicuci berkali-kali, bau itu tetap  semerbak. Ketua  Partai Amal Mesir, Majdi Ahmad Husain, menyaksikan sendiri  harumnya jenazah para  syuhada.

Sebagaunana dilansir situs Al Quds Al  Arabi (19/1/2009), saat masih  berada di Gaza, ia menyampaikan, “Saya  telah mengunjungi sebagian besar kota dan  desa-desa. Saya ingin melihat  bangunan-bangunan yang hancur karena serangan  Israel. Percayalah,  bahwa saya mencium bau harumnya para syuhada.

Selamat dengan Al-Qur’an

Cerita ini bermula ketika salah seorang pejuang yang menderita luka memasuki rumah sakit As Syifa’. Seorang dokter yang memeriksanya kaget ketika mengelahui ada sepotong proyektil peluru bersarang di saku pejuang tersebut.

Yang membuat ia sangat kaget adalah timah panas itu gagal menembus jantung sang pejuang karena terhalang oleh sebuah buku doa dan mushaf al-Qur’an yang selalu berada di saku sang pejuang.

Buku kumpulun doa itu berlobang, namun hanya sampul muka mushaf itu saja yang rusak, sedangkan proyektil sendiri bentuknya sudah “berantakan”.

Kisah ini disaksikan sendiri oleh Dr Hisam Az Zaghah, dan diceritakannya saat Festival Ikatan Dokter Yordan sebagaimana ditulis situs partai Al Ikhwan Al Muslimun (23/1/2009).

Dr Hisam juga memperlihatkan bukti berupa sebuah proyektil peluru, mushaf Al Qur’an, serta buku kumpulan doa-doa berjudul Hishnul Muslim yang menahan peluru tersebut.

Abu Ahid, imam Masjid AnNur di Hay As Syeikh Ridzwan, juga punya kisah menarik. Sebelumnya, Israel telah menembakkan 3 rudalnya ke masjid itu hingga tidak tersisa kecuali hanya puing-puing bangunan. “Akan tetapi mushaf-mushaf Al Quran tetap berada di tampatnya dan tidak tersentuh apa-apa,” ucapnya seraya tak henti bertasbih.

“Kami temui beberapa mushaf yang terbuka tepat di ayat-ayat yang mengabarkan tentang kemenangan dan kesabaran, seperti firman Allah, ‘Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata, sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali,”(Al-Baqarah [2]: 155-156),” jelas Abu Ahid sebagaimana dikutip Islam Online (15/1/2009).

Kabut pun Ikut Membantu

Ada pula kisah menarik yang disampaikan oleh komandan lapangan Al Qassam di kamp pengungsian Nashirat, langsung setelah usai shalat dhuhur di masjid Al Qassam (17/1/2009).

Saat itu sekelompok mujahidin yang melakukan ribath di Tal Ajul terkepung oleh tank-tank Israel dan pasukan khusus mereka. Dari atas, pesawat mata-mata terus mengawasi.

Di saat posisi para mujahidin terjepit, kabut tebal tiba-tiba turun di malam itu. Kabut itu lelah menutupi pandangan mata tentara Israel dan membantu pasukan mujahidin keluar dari kepungan.

Kasus serupa diceritakan oleh Abu Ubaidah. salah satu pemimpin lapangan Al Qassam, sebagaimana ditulis situs almesryoon.com. la bercerita bagaimana kabut tebal tiba-tiba turun dan membatu para mujahidin untuk melakukan serangan.

Awalnya, pasukan mujahiddin tengah menunggu waktu yang tepat untuk mendekati tank-tank tentara Israel guna meledakkannya. “Tak lupa kami berdoa kepada Allah agar dimudahkan untuk melakukan serangan ini,” kata Abu Ubaidah.

Tiba-tiba turunlah kabut tebal di tempat tersebut. Pasukan mujahidin segera bergerak menyelinap di antara tank-tank, menanam ranjau-ranjau di dekatnya, dan segera meninggalkan lokasi tanpa diketahui pesawat mata-mata yang memenuhi langit Gaza, atau oleh pasukan infantri Israel yang berada di sekitar kendaraan militer itu. Lima tentara Israel tewas di tempat dan puluhan lainnya luka-luka setelah ranjau-ranjau itu meledak.

Merpati dan Anjing

Seorang mujahid Palestina menuturkan kisah “aneh” lainnya kepada situs Filithin AlAan (25/1/ 2009). Saat bertugas di wilayah Jabal Ar Rais, sang mujahid melihat seekor merpati terbang dengan suara melengking, yang melintas sebelum rudal-rudal Israel berjatuhan di wilayah itu.

Para mujahidin yang juga melihat merpati itu langsung menangkap adanya isyarat yang ingin disampaikan sang merpati.

Begitu merpali itu melintas, para mujahidin langsung berlindung di tempat persembunyian mereka. Ternyata dugaan mereka benar. Selang beberapa saat kemudian bom-bom Israel datang menghujan. Para mujahidin itu pun selamat.

Adalagi cerita “keajaiban” mengenai seekor anjing, sebagaimana diberitakan situs Filithin Al Aan. Suatu hari, tatkala sekumpulan mujahidin Al Qassam melakukan ribath di front pada tengah malam, tiba-tiba muncul seekor anjing militer Israel jenis doberman. Anjing itu kelihatannya memang dilatih khusus untuk membantu pasukan Israel menemukan tempat penyimpanan senjata dan persembunyian para mujahidin.

Anjing besar ini mendekat dengan menampakkan sikap tidak bersahabat. Salah seorang mujahidin kemudian mendekati anjing itu dan berkata kepadanya, “Kami adalah para mujahidin di jalan Allah dan kami diperintahkan untuk tetap berada di tempat ini. Karena itu, menjauhlah dari kami, dan jangan menimbulkan masalah untuk kami.”

Setelah itu, si anjing duduk dengan dua tangannya dijulurkan ke depan dan diam. Akhirnya, seorang mujahidin yang lain mendekatinya dan memberinya beberapa korma. Dengan tenang anjing itu memakan korma itu, lalu beranjak pergi.

Saksi Serdadu Israel

Cerita tentang “serdadu berseragam putih” tak hanya diungkap oleh mujahidin Palestina atau warga Gaza. Beberapa personel pasukan Israel sendiri menyatakan hal serupa.

Situs al-Qassam memberitakan bahwa TV Chan*nel 10 milik Israel telah menyiarkan seorang anggota pasukan yang ikut serta dalam pertempuran Gaza dan kembali dalam keadaan buta.

“Ketika saya berada di Gaza, seorang tentara berpakaian putih mendatangi saya dan menaburkan pasir di mata saya, hingga saat itu juga saya buta,” kata anggota pasukan ini.

Di tempat lain ada serdadu Israel yang mengatakan mereka pernah berhadapan dengan “hantu”. Mereka tidak diketahui dari mana asalnya, kapan munculnya, dan ke mana menghilangnya.

Masih dari Channel 10, seorang Lentara Israel lainnya mengatakan, “Kami berhadapan dengan pasukan berbaju putih-putih dengan jenggot panjang. Kami tembak dengan senjata, akan tetapi mereka tidak mati.”

Cerita ini menggelitik banyak pemirsa. Mereka bertanya kepada Channel 10, siapa sebenarnya pasukan berseragam putih itu? betul-betul..

Sudah Meledak, Ranjau Masih Utuh

Di saat para mujahidin terjepit, hewan-hewan dan alam tiba-tiba ikut membantu, bahkan menjelma menjadi sesuatu yang menakutkan.

Sebuah kejadian “aneh” terjadi di Gaza Selatan, tepatnya di daerah AI Maghraqah. Saat itu para mujahidin sedang memasang ranjau. Di saat mengulur kabel, tiba-tiba sebuah pesawat mata-mata Israel memergoki mereka. Bom pun langsung jatuh ke lokasi itu.

Untunglah para mujahidin selamat. Namun, kabel pengubung ranjau dan pemicu yang tadi hendak disambung menjadi terputus. Tidak ada kesempatan lagi untuk menyambungnya, karena pesawat masih berputar-putar di atas.

Tak lama kemudian, beberapa tank Israel mendekati lokasi di mana ranjau-ranjau tersebut ditanam. Tak sekadar lewat, tank-tank itu malah berhenti tepat di atas peledak yang sudah tak berfungsi itu.

Apa daya, kaum Mujahidin tak bisa berbuat apa-apa. Kabel ranjau jelas tak mungkin disambung, sementara tank-tank Israel telah berkumpul persis di atas ranjau.

Mereka merasa amat sedih, bahkan ada yang menangis ketika melihat pemandangan itu. Sebagian yang lain berdoa, “allahumma kama lam tumakkinna minhum, allahumma la tumakkin lahum,” yang maknanya, “Ya Allah, sebagaimana engkau tidak memberikan kesempatan kami menghadapi mereka, jadikanlah mereka juga lidak memiliki kesempatan serupa.”

Tiba-tiba, ketika fajar tiba, terjadilah keajaiban. Terdengar ledakan dahsyat persis di lokasi penanaman ranjau yang tadinya tak berfungsi.

Setelah Tentara Israel pergi dengan membawa kerugian akibat ledakan lersebut, para mujahidin segera melihal lokasi ledakan. Sungguh aneh, ternyata seluruh ranjau yang telah mereka tanam itu masih utuh. Dari mana datangnva ledakan? Wallahu a’lam.

Masih dari wilayah Al Maghraqah. Saat pasukan Israel menembakkan artileri ke salah satu rumah, hingga rumah itu terbakar dan api menjalar ke rumah sebelahnya, para mujahidin dihinggapi rasa khawatir jika api itu semakin tak terkendali.

Seorang dari mujahidin itu lalu berdoa,”Wahai Dzat yang merubah api menjadi dingin dan tidak membahayakan untuk Ibrahim, padamkanlah api itu dengan kekuatan-Mu.”

Maka, tidak lebih dari tiga menit, api pun padam. Para niujahidin menangis terharu karena mereka merasa Allah Subhanuhu wa Ta’ala (SWT) telah memberi pertolongan dengan terkabulnya doa mereka dengan segera.

Suara Tak Bersumber

Ada lagi kisah karamah mujahidin yang kali ini disebutkan oleh khatib masjid Izzuddin Al Qassam di wilayah Nashirat Gaza yang telah ditayangkan oleh TV channel Al Quds, yang juga ditulis oleh Dr Aburrahman Al Jamal di situs Al Qassam dengan judul Ayaat Ar Rahman fi Jihad Al Furqan (Ayat-ayat Allah dalam Jihad Al Furqan).

Sang khatib bercerita, seorang pejuang telah menanam sebuah ranjau yang telah disiapkan untuk menyambut pasukan Zionis yang melalui jalan tersebut.

“Saya telah menanam sebuah ranjau. Saya kemudian melihat sebuah helikopter menurunkan sejumlah besar pasukan disertai tank-tank yang beriringan menuju jalan tempat saya menanam ranjau,” kata pejuang tadi.

Akhirnya, sang pejuang memutuskan untuk kembali ke markas karena mengira ranjau itu tidak akan bekerja optimal. Maklum, jumlah musuh amat banyak.

Akan tetapi, sebelum beranjak meninggalkan lokasi, pejuang itu mendengar suara “Utsbut, tsabatkallah” yang maknanya kurang lebih, “tetaplah di tempat maka Allah menguatkanmu.” Ucapan itu ia dengar berulang-ulang sebanyak tiga kali.

“Saya mencari sekeliling untuk mengetahui siapa yang mengatakan hal itu kapada saya. Akan tetapi saya malah terkejut, karena tidak ada seorang pun yang bersama saya,” ucap mujahidin itu, sebagaimana ditirukan sang khatib.

Akhirnya sang mujahid memutuskan untuk tetap berada di lokasi. Ketika sebuah tank melewati ranjau yang tertanam, sesualu yang “ajaib” terjadi. Ranjau itu justru meledak amat dahsyat. Tank yang berada di dekatnya langsung hancur. Banyak serdadu Israel meninggal seketika. Sebagian dari mereka harus diangkut oleh helikopter. “Sedangkan saya sendiri dalam keadaan selamat,” kata mujahid itu lagi, melalui lidah khatib.

Cerita yang disampaikan oleh seorang penulis Mesir, Hisyam Hilali, dalam situs alraesryoon.com, ikut mendukung kisah-kisah sebelumnya. Abu Mujahid, salah seorang pejuang yang melakukan ribath (berjaga) mengatakan, “Ketika saya mengamati gerakan tank-tank di perbatasan kota, dan tidak ada seorang pun di sekitar, akan tetapi saya mendengar suara orang yang bertasbih dan beritighfar. Saya berkali-kali mencoba untuk memastikan asal suara itu, akhirnya saya memastikan bahwa suara itu tidak keluar kecuali dari bebatuan dan pasir.”

Cerita mengenai “pasukan tidak dikenal” juga datang dari seorang penduduk rumah susun wilayah Tal Islam yang handak mengungsi bersama keluarganya untuk menyelamatkan diri dari serangan Israel.

Di tangga rumah ia melihat beberapa pejuang menangis. “Kenapa kalian menangis?” tanyanya.

“Kami menangis bukan karena khawatir keadaan diri kami atau takut dari musuh. Kami menangis karena bukan kami yang bertempur. Di sana ada kelompok lain yang bertempur memporak-porandakan musuh, dan kami tidak tahu dari mana mereka datang,” jawabnya.

Pasukan “Berseragam Putih” di Gaza

Ada “pasukan lain” membantu para mujahidin Palestina. Pasukan Israel sendiri mengakui adanya pasukan berseragam putih itu.

Suatu hari di penghujung Januari 2009, sebuah rumah milik keluarga Dardunah yang berada di antara Jabal Al Kasyif dan Jabal Ar Rais, tepatnya di jalan Al Qaram, didatangi oleh sekelompok pasukan Israel.

Seluruh anggota keluarga diperintahkan duduk di sebuah ruangan. Salah satu anak laki-laki diinterogasi mengenai ciri-ciri para pejuang al-Qassam.

Saat diinterogasi, sebagaimana ditulis situs Filisthin Al Aan (25/1/2009), mengutip cerita seorang mujahidin al-Qassam, laki-laki itu menjawab dengan jujur bahwa para pejuang al-Qassam mengenakan baju hitam-hitam. Akan tetapi tentara itu malah marah dan memukulnya hingga laki-laki malang itu pingsan.

Selama tiga hari berturut-turut, setiap ditanya, laki-laki itu menjawab bahwa para pejuang al-Qassam memakai seragam hitam. Akhirnya, tentara itu naik pitam dan mengatakan dengan keras, “Wahai pembohong! Mereka itu berseragam putih!”

Cerita lain yang disampaikan penduduk Palestina di situs milik Brigade Izzuddin al-Qassam, Multaqa al-Qasami, juga menyebutkan adanya “pasukan lain” yang tidak dikenal. Awalnya, sebuah ambulan dihentikan oleh sekelompok pasukan Israel. Sopirnya ditanya apakah dia berasal dari kelompok Hamas atau Fatah? Sopir malang itu menjawab, “Saya bukan kelompok mana-mana. Saya cuma sopir ambulan.”

Akan tetapi tentara Israel itu masih bertanya, “Pasukan yang berpakaian putih-putih dibelakangmu tadi, masuk kelompok mana?” Si sopir pun kebingungan, karena ia tidak melihat seorangpun yang berada di belakangnya. “Saya tidak tahu,” jawaban satu-satunya yang ia miliki.

Penyebab Konflik Palestina - Israel

pembantaian Muslim Palestina oleh yahudi laknatullah tampaknya jadi "pertunjukan layar kaca paling lama" yg pernah diputar. Yahudi israel membintangi episode demi episode ditayangkan tiap waktunya kepada kaum Muslim, sampai detik ini pun. Anehnya, kaum Muslim bersedih duka saat saksikan pembunuhan saudara2 mereka saat itu, namun membiarkan terulang episode berikutnya.

Mengumpat dan mengutuk kita lakukan saat dipertontonkan penyiksaan dan kesakitan mereka, namun semua selalu terulang kembali. Ingatkah 2009, syahid 1.300 Muslim kurang dari 1 bulan di tangan yahudi? 2010 saat insiden freedom flotilla?

anehnya, sampai sekarang banyak Muslim yang masih berharap pada PBB dan AS untuk selesaikan masalah Palestina. Ada baiknya kita ingat kembali sejarah munculnya konflik Palestina-israel | agar bisa berikan sikap yang tepat.

Jalur Gaza, ialah sebentang tanah kaum Muslim yang tersisa setelah dirampas dunia barat. Gaza, 'penjara' terbesar di dunia saat ini.
 
Gaza, dikelilingi tembok beton tinggi hingga Muslim disana terperangkap untuk dibunuh.

Search This Blog